Ibrani 4:12
Sebab firman Allah hidup dan kuat dan lebih tajam dari pada pedang bermata dua manapun; ia menusuk amat dalam sampai memisahkan jiwa dan roh, sendi-sendi dan sumsum; ia sanggup membedakan pertimbangan dan pikiran hati kita.


Renungan Harian

Sperti rusa rindu sungaiMu...

Sumber didapat dari:
Frater Sebastianus W. Bu'ulolo, cm

| 1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | 11 | 12 | 13 | 14 | 15 | 16 | 17 | 18 | 19 | 20 | 21 | 22 | 23 | 24 | 25 | 26 | 27 | 28 | 29 | 30 | 31 |
Mei 2008

Kitab Suci On Line31 Mei 2008 - Bacaan Injil : Lukas 1:39-56

Setiap orang dari antara kita pasti memiliki kebiasan mengunjungi keluarga, sahabat dan siapa saja yang kita kenal. Kunjungan memiliki makna yang luar biasa, entah untuk keakraban atau pun untuk menyatakan simpatik kita kepada orang lain. Kehadiran para sahabat atau pun kehadiran diri kita sendiri kerapkali begitu meninggalkan kesan yang mendalam karena telah meringankan beban hidup kita dan orang lain.

Arti pentingnya kehadiran orang lain dalam hidup rupanya juga dirasa penting oleh Maria. Sesudah mendengar kabar dari Malaikat bahwa dia akan mengandung seorang Anak laki-laki, walaupun dia belum bersuami, Maria pergi mengunjungi Elisabet, saudaranya. Ada pun Elisabet sedang mengandung seorang anak, pada hari tuanya. Apa yang istimewa dari kunjungan, dari perjumpaan kedua wanita ini?

Maria dan Elisabet rupanya adalah dua wanita yang mengemban tugas ilahi dari Tuhan. Maria yang belum bersuami diberi anugerah untuk mengandung Yesus dan Elisabet sedang mengandung seorang bayi yang akan mempersiapkan jalan bagi Tuhan Yesus. Tugas ini bukanlah tugas yang mudah dijalani. Kita bisa memastikan, jika kita melihat dari sisi kemanusian mereka, bahwa kedua wanita ini pastilah mengalami aneka kesulitan, mulai dari berjalan dalam kegelapan iman untuk mengerti dan menemukan kehendak Allah atas apa yang mereka alami hingga kesulitan yang dimunculkan oleh aneka pertanyaan atau gosip miring dari orang-orang pada zamannya yang juga belum memahami apa yang terjadi atas kedua wanita ini. Di situasi inilah, kita bisa memahami betapa kaya makna dari peristiwa Maria mengunjungi Elisabet ini. Kunjungan ini sangat diwarnai nuansa iman. Melalui kunjungan yang kaya akan nuansa iman ini, mereka hendak saling berbagi rasa dan sekaligus meneguhkan agar tetap kuat menerima kehendak dan panggilan Allah yang begitu luar biasa dan sekaligus begitu berat, sarat dengan penderitaan!

Kehidupan yang kita jalani bukan sekedar kehidupan yang tanpa makna dan tujuan. Masing-masing di antara kita memiliki panggilan hidup seperti Maria dan Elisabet. Allah memanggil kita sesuai dengan kondisi dan profesi hidup kita. Dalam menjalani panggilan itu, terkadang kita frustasi, kecewa, takut, dan bahkan tidak mampu menjalani panggilan hidup kita karena alasan-alasan tertentu. Betapa pentingnya bagi kita keluar dari diri kita sendiri dan hadir di tengah kehidupan para sahabat, tetangga atau siapa saja yang sedang mengalami beban berat dalam hidupnya. Tetapi, betapa pentingnya juga bagi kita membuka diri bagi kehadiran orang lain, yang ingin membawa pesan bahwa kita tidak sendirian karena mereka ada bersama kita. (fr. bastian-wawan, cm) ^ Keatas


Kitab Suci On Line30 Mei 2008 - Bacaan Injil : Matius 11:25-30

Beberapa hari yang lalu, seorang teman menceritakan apa yang sedang dialami di dalam keluarganya. Dia merasakan bahwa keluarga tidak lagi menjadi tempat yang menyejukkan, menentramkan, dan bahkan keluarga menjadi sumber konflik. Belum lagi beban pekerjaannya yang menguras waktu dan tenaga. Dia merasa jenuh dan jemu terhadap hidup yang dijalaninya. Dia menjalani kehidupan ini hanya berdasarkan mood dan tidak mood. Dia merasakan beban hidup yang sungguh berat seakan hanya dirinyalah yang mengalami hal itu.

Sabda Yesus hari ini mau menegaskan kepada kita bahwa beban hidup dengan segala persoalannya apa bila dijalani atau dilewati dengan cinta akan menjadi sebuah sumber kegembiraan. Seringkali kita merasa bahwa beban hidup kita tidak tertanggung lagi. Mari kita belajar dari Yesuslah, Sang guru dan teladan, mengenai bagaimana kita harus menyikapi beban hidup dan persoalan kita. CINTA adalah kuncinya. Yesus sendiri menjalani segala “penderitaan/salibNya” dengan penuh cinta demi cintanya kepada manusia.

Mari kita belajar dan menimba kekuatan dari Yesus, Sang CINTA. Dia mengundang kita dengan berkata: “Datanglah kepadaKu kalian yang berbeban berat dan letih lesu…” Marilah kita datang kepada Dia Sang Kekuatan sejati bukan hanya di saat hidup kita mengalami krisis dan beban, melainkan setiap saat dalam dan dalam situasi mana pun dalam hidup kita. Dengan menimba kekuatan cinta-Nya, kita akan mampu menjalani dan menerima beban hidup dengan segala persoalannya dengan penuh cinta dan tanpa mengeluh dan menghindarinya. Mari kita menjadi dewasa dalam iman. Karena dengan dewasa dalam iman, maka kita akan mengolah dan menerima segala persoalan dan beban hidup itu dengan mata iman. (fr. suyato, cm) ^ Keatas


Kitab Suci On Line29 Mei 2008 - Bacaan Injil : Markus 10:46-52

Kita memiliki mata yang normal. Mata yang normal itu telah banyak membantu kita mengenali banyak orang, tempat dan aneka hal lain yang hadir dalam kehidupan keseharian kita. Aneka kegiatan rutin yang kita lakukan berjalan dengan baik berkat bantuan mata. Tetapi apa yang akan terjadi, jika pada suatu hari kita mendapatkan mata kita dalam keadaan buta? Kita pasti akan panik, sedih, dan tidak mampu melakukan aneka kebiasan yang sudah biasa kita lakukan. Satu-satunya yang menjadi kerinduan kita adalah mata kita bisa melihat, melihat dan terus melihat lagi.

Kerinduan untuk melihat rupanya juga menggema dalam diri Bartimeus, anak Timeus, seorang pengemis yang buta. Bartimeus sedang duduk di pinggir jalan. Kemungkinan besar bahwa dia menunggu Yesus untuk memohon kesembuhan. Dia mungkin sudah mendengar banyak hal tentang Yesus dan maka dia terus bersabar menunggu kedatangan Yesus karena dia menaruh harapannya kepada-Nya. Ketika dia mendengar bahwa yang lewat bersama orang banyak itu adalah Yesus dari Nazaret, lalu dia berkata: “Yesus, Anak Daud, kasihanilah aku”. Rupanya, banyak orang menegurnya supaya dia diam. Yah, maklumlah, orang buta yang dianggap berdosa tidak punya hak tampil di depan banyak orang dan juga tidak pantas berhadapan dengan Yesus yang dianggap sebagai nabi pada waktu itu. Walaupun dilarang bicara, toh Bartimeus tidak menyerah dan malah semakin keras berteriak, “Anak Daud, kasihanilah aku!”. Mengapa? Karena dia percaya bahwa Yesus akan menaruh kasih dan menyembuhkannya. Ketika Yesus memerintahkan untuk memanggil dia, Bartimeus menanggalkan jubahnya, segera berdiri dan pergi mendapatkan Yesus. Lalu ketika Yesus bertanya kepada-Nya mengenai apa yang hendak Dia perbuat kepadanya, Bartimeus menjawab dengan penuh kejujuran dan tentu dengan iman, “Rabuni, supaya aku dapat melihat!”. Apa yang terjadi, Yesus mengabulkan apa yang dimohonkannya. Iman dan perjumpaannya dengan Yesus telah merubah hidupnya, dari tidak bisa melihat menjadi melihat. Bahkan, dia memutuskan untuk mengikuti Yesus dalam perjalanan-Nya.

Keinginan Bartimeus untuk mendapat belaskasih dari Yesus, yakni untuk disembuhkan dari kebutaannya, menuntut sebuah usaha. Bartimeus mengambil sebuah keputusan dalam hidupnya yakni MENUNGGU Yesus di pinggir jalan, BERSERU dan SEMAKIN BERTERIAK memohon belaskasih dari Yesus, MENANGGALKAN JUBAH, BEDIRI dan PERGI menghadap Yesus. Apa yang telah diusahakannya membuahkan hasil, yakni kesembuhan. Tetapi dia tidak berhenti di situ! Dia membuat sebuah keputusan baru dalam hidupnya, yakni MENGIKUTI YESUS DALAM PERJALANAN-NYA.

Kita memiliki aneka harapan dan kerinduan dalam hidup kita, yakni perubahan hidup dan diri kita. Bahkan kita memiliki kerinduan terdalam untuk mengalami dan berjumpa dengan Tuhan dalam hidup kita. Tetapi, seberapa besarkah usaha yang telah kita lakukan? Apakah kita sudah membuat sebuah komitmen dan setia pada komitmen itu? Perubahan dalam hidup Anda hanya terletak pada usaha dan komitmen Anda untuk berubah, di samping rahmat Allah yang bekerja dalam hidup Anda. (fr. bastian-wawan, cm) ^ Keatas


Kitab Suci On Line28 Mei 2008 - Bacaan Injil : Mrk. 10:32-45

Hari-hari ini, di media televisi dan di Koran banyak kita jumpai iklan para tokoh yang hendak mencalonkan diri menjadi presiden; juga di jalan-jalan banyak kita jumpai pamlet atau spanduk. Mereka sudah menabuh genderang perang untuk merebut kursi Presiden 2009. Yah, mungkin ini tidak dikatakan secara langsung, tapi memang itulah faktanya. Ada yang menonjolkan kelompok petani; seakan-akan, ia adalah tokoh pembela petani. Ada yang menonjolkan anak-anak; seakan-akan ia adalah tokoh pembela anak-anak. Ada yang menonjolkan keburukan orang lain, supaya ia tampak baik. Mereka semua sedang berusaha merebut kekuasaan, menjadi orang nomor satu.

Hari ini, sama seperti yang sedang terjadi di sekitar kita, kitapun mendengar dalam Injil bagaimana Yohanes dan Yakobus mengincar kekuasaan di sebelah kanan dan di sebelah kiri Yesus. Yesus segera menanyai mereka, “Sanggupkah kalian meminum piala yang harus Kuminum?” Tetapi, mereka segera menjawab “kami sanggup.” Apakah para murid itu sungguh-sungguh tahu apa yang dimaksud dengan piala yang harus diminum oleh Yesus? Apakah para murid itu sungguh-sungguh sanggup? Rasanya, begitu mudah mereka berkata “kami sangup.” Sama seperti para pemimpin di sekitar kita ini, juga para tokoh yang sedang “berkampanye” itu, begitu mudah mereka mengatakan mereka membela orang kecil; begitu mudah mereka mengumbar janji pendidikan gratis, kesehatan gratis, masa depan yang lebih cerah, dan sebagainya. Apakah mereka sungguh-sungguh dengan ucapan mereka itu atau sekedar mengumbar janji?

Kekuasaan memang begitu menggoda dan memikat. Banyak orang mengincarnya. Bahkan mungkin kekuasaan itu membuat orang buta akan tanggungjawab atau konsekuensi yang harus dilaksanakannya. Yesus sungguh-sungguh tahu akan hal itu, maka, Ia memberi pesan kepada kita semua, “Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kalian, hendaklah ia menjadi pelayanmu. Dan barangsiapa ingin menjadi yang terkemuka di antara kalian, hendaklah ia menjadi hamba untuk semuanya.” Nasihat ini sungguh penting agar kita semua ingat bahwa kekuasaan berarti sebuah pelayanan, pengabdian. Yesus sendiri membuktikannya dengan mengorbankan nyawanya di kayu salib. Maka, saudara-saudara, marilah kita selalu ingat akan nasihat Tuhan ini, sebab “Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani.” Kita hidup bukan untuk mencari dan mengejar kekuasaan, melainkan untuk mengabdi dan melayani. (fr. kurniawan, cm) ^ Keatas


Kitab Suci On Line27 Mei 2008 - Bacaan Injil : Markus 10:28-31

MENERIMA KELIMPAHAN KASIH TUHAN

Toti merasa terpanggil dan ingin menjadi seorang pastor. Keinginan itu baru direstui oleh keluarga ketika ayahnya yang terkasih, yang saat itu sedang sakit keras dan tidak lama kemudian meninggal, berpesan untuk memberi kebebasan bagi Toti menentukan pilihan hidupnya. Setahun setelah kematian papanya, Toti memutuskan untuk mendaftar diri di salah satu tarekat religius yang jauh dari daerahanya. Saat mengadakan perjalanan menuju seminari yang telah menantinya, tak satu pun dari keluarga yang mengantarkan Toti. Tetapi bagaimana pun Toti yang bermodal keberanian dan keyakinan pada penyertaan Tuhan tetap mengadakan perjalanan jauh. Sungguh menarik, sebelum makan malam, Toti tidak lupa membuat tanda salib. Pada saat itu ada orang kristen yang merasa senang dengan keberaniannya. Tetapi dialog Toti dengan orang kristen itu tidak begitu mendalam. Tetapi sungguh mengherankan, jutru orang itu yang akan membantu Toti yang sedang kebingungan mencari tahu bagaimana dia dapat sampai ke tempat tujuan. Bahkan orang itu sendiri yang menemaninya dan yang membiayai ongkos taksi hingga di tempat tujuan. Betapa Toti merasakan kasih dan penyertaan Tuhan. Betapa Dia merasa telah menerima apa janji Tuhan terhadap mereka yang memutuskan meninggalkan segala-galanya untuk mengikuti Dia.

Dalam kisah perjalan hidupnya, Toti mengalalami betapa Tuhan berbelas kasih dan menyertainya. Bahkan lebih dari itu, dia tidak menunggu lama akan pemenuhan janji Allah seperti yang dijanjikan kepada mereka yang memutuskan meninggalkan segala-galanya untuk mengikuti Dia. Rahmat mengalami pemenuhan janji dan belas kasih Tuhan, menjadi kekuatan bagi Toti untuk setia pada panggilan hidupnya. Tetapi terkadang dalam hidup keseharian, kita terkadang kecewa jika tidak mengalami kasih dan tidak melihat makna mengikuti Yesus!

Mari kita melihat pergumulan para murid Yesus. Ketika Yesus berkata kepada mereka: “Anak-anak-Ku, alangkah sukarnya masuk ke dalam Kerajaan Allah. Lebih mudah seekor unta melewati lobang jarum dari pada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah”, mereka makin gempar dan berkata seorang kepada yang lain: “Jika demikian, siapakah yang dapat diselamatkan?” Yesus berkata kepada mereka: “Bagi manusia hal itu tidak mungkin, tetapi bukan demikian bagi Allah. Sebab segala sesuatu adalah mungkin bagi Allah.” (Mrk 10:24-27).

Penjelasan Yesus di atas tidak memuaskan Petrus. Petrus merasa sia-sia mengikuti Yesus kalau untuk mendapatkan keselamatan itu sesuatu yang sulit. Lantas Petrus berkata kapada Yesus: “Kami ini telah meninggalkan segala sesuatu dan mengikut Engkau!” (ayat 28). Di sini Petrus mempertanyakan arti mengikuti Yesus. Bukankah sesuatu yang sia-sia mengikuti Dia. Namun, Yesus memberikan harapan kepada Petrus dengan berkata: “Sesungguhnya setiap orang yang karena Aku dan karena Injil meninggalkan rumahnya, …. sekarang pada masa ini juga akan menerima kembali seratus kali lipat… sekalipun disertai berbagai penganiayaan, dan pada zaman yang akan datang ia akan menerima hidup yang kekal.” (ayat 29-30). Pemenuhan janji itu, tidak hanya terpenuhi di akhir zaman, tetapi pada saat yang sama (sekarang pada masa ini) di mana seseorang memutuskan mengikuti Yesus. Bahkan mereka yang mengikuti Yesus akan menerima upahnya dalam kelimpahan.

Kita telah mengimani Yesus Kristus. Kita telah meninggalkan segala sesuatu yang memberi kenyamanan bagi kita hanya demi iman akan Dia. Tidak jarang, setelah sekian tahun mengimani Yesus, kita merasa kuatir akan kasih dan janjiNya seperti yang dialami oleh para murid. Aneka kesulitan hidup yang kita alami ketika mengimani Dia semakin membuat kita ragu-ragu akan kebenaran janjiNya. Hari ini Yesus meminta kita agar percaya bahwa kita akan menerima kelimpahan kasihNya yang luar biasa. Tetapi hanya saja, apakah kita sudah mengasihi Yesus lebih dari segalanya? Kalau jawabannya “belum”, mengapa kita banyak menuntut? Tetapi, kalau jawabannya “sudah”, mari kita tetap berharap sambil melihat anugerah-anugerah Allah yang hadir dalam hidup keseharian kita, tetapi bukan dengan mata jasmani kita, melainkan dengan mata iman. (fr. bastian-wawan, cm) ^ Keatas


Kitab Suci On Line26 Mei 2008 - Bacaan Injil : Markus 10:17-27

Ada seorang kaya yang berlari-lari datang menemui Yesus. Ia dengan terengah-engah bertanya kepada Yesus: “… Apa yang harus kuperbuat untuk memperolah hidup yang kekal?” Lalu Yesus menyebut segala perintah Allah: “Jangan membunuh, jangan berzinah, jangan mencuri, …” Jawab orang itu, “Semuanya telah kuturuti sejak masa mudaku.” Jawab Yesus: “Hanya satu yang kekuranganmu, pergilah, juallah apa yang kaumiliki dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta disurga, kemudian datanglah kemari dan ikutlah Aku.” Orang itu sedih sekali karena banyaklah hartanya. Lalu Yesus bertkata kepada murid-muridNya. “Alangkah sukarnya orang yang beruang masuk ke dalam Kerajaan Allah.”

Jika demikian, siapakah yang dapat masuk Kerajaan Allah? Itulah pertanyaan para murid Yesus saat itu dan pertanyaan kita saat ini. Yang dapat masuk Kerajaan Allah adalah orang yang memiliki sikap lepas bebas dari segala ikatan tanah milik, barang, uang, dan orang untuk dapat mengarahkan hidup pada Kristus.

Memang harus diakui, ikatan yang paling sulit dilepaskan manusia untuk mengikuti Yesus adalah harta benda. Karena memiliki uang maka orang dapat beli narkoba dan menghancurkan hidupnya. Karena memiliki banyak uang maka orang bisa main perempuan, berjudi, dan mabuk-mabukan. Bahkan karena harta warisan, orang tua dan saudara sekandung saja, rela dianiaya bahkan dibunuh. Akibatnya mereka sulit untuk menghayati perutusan kemuridan untuk mencintai Allah dan sesama. Maka benarlah sabda Yesus “Alangkah sukarnya orang yang beruang masuk ke dalam Kerajaan Allah.”

Orang yang memiliki sikap lepas bebas adalah orang yang memiliki kebijaksanaan berkata “cukup”. Artinya berani berkata “cukup” atas keperluan tanah milik, barang, uang, dan orang demi mengarahkan hidupnya kepada Kristus. Karena kita ini, tidak akan pernah puas akan harta milik. (guns) ^ Keatas


Kitab Suci On Line24 Mei 2008 - Bacaan Injil : Yakobus 5:13-20

Bacaan dari surat Rasul Yakobus sungguh-sungguh memberikan masukan dan pedoman yang sangat berharga dan bermanfaat untuk kita semua dalam usaha membangun kebersamaan. Salah satu hal yang perlu dilakukan oleh komunitas kristiani dalam membangun kebersamaan adalah dengan berdoa. Rasul Yakobus memberi  contoh teladan Nabi Elia. Doanya sangat penuh kuasa, baik untuk menurunkan hujan maupun untuk menahan turunnya hujan. Doa yang sungguh-sungguh yang lahir dari iman dan hati yang terdalam inilah yang hendak ditunjukkan kepada kita.

Doa ini menjadi sungguh indah ketika kita tujukan untuk saudara-saudari kita yang lemah yang sangat membutuhkan doa kita. Rasul Yakobus menyebutkan dua kondisi saudara-saudari yang lemah, yaitu yang sakit dan yang berdosa. Bila ada saudara yang sakit, mari kita doakan; bila ada saudara yang berdosa, hendaklah saling mengaku dosa san saling mendoakan. Maka, baik sakit jasmani maupun rohani, sama-sama membutuhkan doa kita. Doa yang lahir dari iman, akan menyelamatkan baik orang sakit maupun orang yang berdosa.

Inilah tugas kita sebagai orang kristiani dan sebagai anggota komunitas kristiani. Mengusahakan segala hal yang diperlukan untuk keselamatan dan kesejahtaraan sesama kita secara lahir dan batin, yaitu dengan berdoa. Maka, marilah kita bertanya dalam hati kita, sudahkah kita berdoa untuk saudara-saudari kita yang sakit yang sangat membutuhkan doa-doa kita? Sudahkan kita berdoa untuk saudara-saudari kita yang sedang menghadapi aneka godaan dan pencobaan yang membuat dia jatuh dalam dosa? Mari kita hadirkan mereka dalam doa-doa kita, sehingga kita semakin menjadi satu dalam komunitas kristiani di mana kita berada. (*fr. kurniawan, cm*) ^ Keatas


Kitab Suci On Line23 Mei 2008 - Bacaan Injil : Yak 5:9-12 Mrk 10:1-12

Suatu ikatan relasi antara pria dan wanita yang didasarkan pada cinta itu sangat luhur nilainya. Suatu persatuan yang menunjukkan pada kasih Allah Bapa kepada manusia. Keadaan jaman sekarang ini sangat jelas kita dipengaruhi oleh berbagai macam pandangan, aliran budaya tertentu. Maka bagaimana untuk memelihara, mempertahankan suatu ikatan cinta itu diperlukan suatu komitmen yang teguh dalam penghayatannya.

Hari ini Yesus berkata dalam Sabda-Nya, yaitu “Apa yang telah dipersatukan oleh Allah, tidak boleh diceraikan oleh manusia.” Kerapakali kita diombang-ambingkan oleh beraneka macam pengaruh trend sekarang ini seperti perselingkuhan, nikah siri, dsb. Yesus dengan tegas menyatakan bahwa kasih yang berasal dari Allah itu sifatnya kekal. Nilai perkawinan Kristiani itu menandakan ikatan cinta Allah kepada manusia. Maka seperti yang dikatakan Rasul Yakobus, janganlah kita menjadi orang yang bersungut-sungut dalam menanggapi kasih Allah. (fr.stef.hadi,cm) ^ Keatas


Kitab Suci On Line22 Mei 2008 - Bacaan Injil : Markus 9:41-50

“Lebih baik bagimu dengan tangan terkudung masuk dalam kehidupan, daripada engan keduabelah tangan masuk dalam api yang tak terpadamkan”

Inti sabda Yesus hari ini ialah bahwa segala dosa adalah tindakan yang buruk, terlebih sikap hidup kita yang membuat orang lain berdosa. Perkataan Yesus sangat keras!Tanpa kita sadari sering kali kita menjadikan anggota tubuh kita (mata, tangan, kaki, mulut) sebagai sarana atau alat yang mengakibatkan diri kita atau bahkan orang lan hidup dalam kedosaan. Entah saat kerja di kantor, saat kita sekolah atau hidup bersama dalam komunitas. Pernahkah kita diam sejenak setiap hari untuk memeriksa hidup dan diri kita dihadapan Tuhan dan sesama?

Sabda hari ini menjadi inspirasi dan roh yang menyadarkan kita akan sikap kita selama ini dihadapan Tuhan dan sesama. Sudahkan hidup kita menjadi garam yang memancarkan cinta Tuhan terhadap sesama? Meskipun kita kecil namun kita akan bisa menjadi garam dalam hidup kita. Kata-kata Yesus menjadi lebih penting bagi kita untuk memperbaharui diri setiap hari dan setiap saat ” Hendaklah kamu selalu mempunyai garam dalam dirimu dan selalu hidup berdamai yang seorang dengan yang laen” (Mrk 9: 50b). Menjadi garam berarti menjadikan hidup kita setiap hari sebagai sumber cinta, kebaikan, kedamaian, belas kasih, dan kejujuran. Paus Yohanes Paulus II pernah mengatakan begini ” jika kamu menginginkan kedamaian berusahalah bagi keadilan. Jika kamu ingin keadilan, belalah kehidupan. jika kamu menginginkan Kehidupan, carilah kebenaran-kebenaran yang diungkapkan Tuhan. Marilah saudaraku kita bergerak untuk mencari kebenaran Tuhan Yesus sendiri, sehingga kehadiran kita di mana pun bisa menjadi garam (berkat) bagi sesama.
(fr. suyato, cm) ^ Keatas


Kitab Suci On Line21 Mei 2008 - Bacaan Injil : Yakobus 4:13-17

Beberapa waktu yang lalu terjadi gempa bumi di daerah Yogyakarta dan sekitarnya. Salah satu korban gempa adalah sebuah keluarga yang baru saja mengadakan syukuran atas rumah yang baru saja selesai dibangun. Mereka bersyukur karena hasil kerja keras mereka selama ini telah membuah kan hasil yang nyata, yaitu rumah yang layak untuk mereka tinggali. Tetapi, tak diduga, gempa bumi menghancurkan rumah mereka. Hasil kerja keras mereka selama bertahun-tahun, hancur dalam hitungan detik. Ini sungguh kisah yang tragis dari salah seorang korban gempa. Siapa yang akan menduga bila begini jadinya?

Demikianlah, Rasul Yakobus juga berusaha mengingatkan kita semua. Manusia bisa merencanakan, tetapi Tuhan yang menentukan. Maka, berkatalah, “Jika Tuhan menghendakinya, kami akan hidup dan berbuat ini dan itu.” Disinilah manusia diajak untuk merencanakan sesuatu, lalu kemudian memasrahkannya kepada Tuhan. Tidak ada hitungan matematis yang membuat segala sesutau pasti begini, pasti begitu. Seorang ibu yang terkena virus HIV, ternyata melahirkan seorang bayi yang sehat. Siapa yang menduga? Dalam bencana alam yang dahsyat, yang tidak ada kemungkinan hidup, ternyata ada saja, entah ibu atau bayi yang selamat. Sungguh luar biasa dan ajaib. Selalu ada keajaiban ditengah situasi yang tidak mungkin; disitulah Tangan Tuhan bekerja, saat kita memberi waktu dan ruang bagi Tuhan untuk turut bekerja dalam hidup kita. Tetapi, yang seringkali terjadi adalah kita tidak memberikan ruang dan waktu bagi Tuhan. Semua kita urus dan rencanakan sendiri. Kesombongan hati manusia membuat ia merasa mampu melakukan segala sesuatu secara pasti. Padahal, pikiran manusia tidak mampu menampung luasnya air lautan. Hidup manusia itu oleh Yakobus diibaratkan sama seperti uap yang sebentar saja kelihatan lalu lenyap. Ada banyak hal di luar dugaan kita yang bisa saja terjadi, entah sesuatu yang baik maupun sesuatu yang buruk.

Oleh karena itu, dalam setiap perencanaan dan perbuatan, sediakanlah ruang dan waktu untuk Tuhan berkarya. Ada orang bijak yang berkata, marilah kita bekerja sebaik-baiknya, sekeras-kerasnya, dan segiat-giatnya, lalu… biarkanlah Tuhan yang menyelesaikan sisanya. Artinya, ada kerja sama antara usaha manusia dan rahmat Tuhan.
(fr. kurniwan, cm) ^ Keatas


Kitab Suci On Line20 Mei 2008 - Bacaan Injil : Markus 9:30-37

Anton (nama samaran) bekerja di sebuah perusahan di salah satu daerah di Kalimantan Barat. Anton memiliki posisi yang sangat baik. Karirnya samakin baik dari hari ke hari. Tidak hanya itu, dia sangat disukai oleh rekan-rekan kerjanya karena keramahan, kerendahan hati dan pelayanannya. Sekalipun memiliki posisi yang baik di perusahan, toh dia bekerja, bekerja dan terus bekerja dengan penuh tanggung jawab dan dalam kerjasama dengan rekan-rekan yang lain. Namun, ada saja orang yang tidak menyukainya sekalipun dia tidak melakukan yang tidak baik. Orang yang tidak menyukainya, katakanlah namanya Teni, berusaha menjatuhkan nama baik Anton agar kelak menduduki posisi yang saat ini ditempati oleh Anton di perusahaan di mana mereka berkerja. Bagaimana pun Anton tetap dan terus menjalankan tanggung jawabnya sebagai tugas pelayanan bahkan terhadap rekannya yang telah berusah memfinahnya.

Dalam hidup sehari-hari kita pun memiliki ambisi menjadi seorang pemimpin. Kepemimpinan yang telah dicapai oleh Anton dalam kisah di atas dihayati sebagai kesempatan untuk melayani, sementara Teni berambisi menjadi seorang pemimpin dengan segala cara yang licik. Mungkin Teni melihat kepemimpinan sebagai kesempatan berkuasa untuk mencapai kepentingan pribadinya. Ambisi menjadi seorang pemimpin adalah ambisi setiap orang. Para murid pun dalam Injil hari ini memiliki ambisi menjadi yang terbesar. Dalam perjalanan bersama Yesus, mereka sibuk mempertengkarkan siapa yang terbesar di antara mereka (ayat 34). Mereka lupa bahwa panggilan mereka menjadi murid adalah panggilan untuk menderita bersama Kristus. Mereka lupa bahwa mereka dipanggil untuk melayani seperti diteladankan oleh Yesus sendiri. Karena itu Yesus menegur mereka dengan berkata: “Jika seseorang ingin menjadi yang terdahulu, hendaklah ia menjadi yang terakhir dari semuanya dan pelayan dari semuanya” (ayat 35). Lebih dari itu, tindakan Yesus yang mengambil seorang anak kecil dan menempatkannya di tengah-tengah mereka mau mengajak para murid untuk tidak memiliki ambisi menjadi yang terbesar. Tetapi mereka hendaklah memiliki hati yang jujur, polos dan penuh cinta seperti anak kecil itu dalam menjalani panggilan mereka sebagai pelayan. Keseluruhan hidup mereka hendaknya terpusat pada Yesus dan bukan pada ambisi mereka.

Kita memiliki keinginan, harapan dan ambisi dalam hidup keseharian kita! Itu tidak salah! Tetapi apakah keinginan, harapan, dan ambisi itu didorong oleh kesombongan diriku semata untuk menjadi orang terbesar? Apakah setiap tanggung jawab yang aku embankan, misalnya sebagai pimpinan, orang tua, guru, dan apa pun profesi hidup kita, aku hayati sebagai panggilan untuk melayani Tuhan dan sesama? Adakah aku meletakkan hidupku pada ambisi untuk berkuasa atau pada pelayanan terhadap Tuhan dan sesama? Kalau aku sudah memiliki tanggung jawab sebagai pemimpin, apakah kepemimpinanku membawa kegelisahan dalam hidup orang lain, ataukah itu menumbuhkan orang lain untuk menjadi lebih baik? Betapa Tuhan akan memuji dan menghargai mereka yang belajar menjadi yang terakhir dari semuanya dan pelayan dari semuanya! (fr. bastian-wawan, cm) ^ Keatas


Kitab Suci On Line19 Mei 2008 - Bacaan Injil : Markus 9:14-19

Jenis ini tidak dapat diusir kecuali dengan berdoa (Mrk 9:29).

Akhir-akhir ini muncul berita heboh soal telepon setan. Menurut kesaksian beberapa orang, efek dari telpon setan adalah tangan seperti kesetrum listrik dengan tegangan tinggi, lalu sekujur tubuh kaku, dan muntah-muntah disertai berkali-kali kencing. Walaupun belum terbukti apakah itu memang dari kuasa setan, ataukah ulah sekelompok orang tertentu karena persaingan bisnis, namun yang jelas banyak orang cemas dan takut, terlebih saat Hp mereka berdering pada malam atau dini hari.

Seorang Bapak membawa anaknya kepada Yesus. Anak itu kerasukan roh yang membisukan, setiap kali roh itu menyerang dia, roh itu membantingkannya ke tanah, lalu mulutnya berbusa, giginya bekertakan, dan tubuhnya menjadi kejang. Bapak itu sudah minta para murid untuk mengusir roh itu namun mereka tidak dapat. Maka ia memohon pada Yesus katanya: “… jika Engkau dapat berbuat sesuatu, tolonglah kami dan kasihanilah kami.” Yesus menjawab: “Katamu, jika Engkau dapat? Tidak ada yang mustahil bagi orang yang percaya!” Maka segera Bapak itu berteriak: “Aku percaya. tolonglah aku yang tidak percaya ini!” Kemudian Yesus mengusir roh jahat yang merasuki anak itu. Setelah peristiwa itu, ketika di rumah, murid-murid bertanya kepada Yesus: “Mengapa kami tidak dapat mengusir roh itu?” Yesus menjawab: “Jenis ini tidak dapat diusir kecuali dengan berdoa.”

Kekuatan doa akan membebaskan kita dari pengaruh roh jahat. Namun doa yang dimaksud bukanlah doa ritual melainkan doa yang penuh iman. Kalaupun telpon setan itu sungguh dari kuasa kegelapan (santet dll) janganlah kuatir. Dengan kuasa doa kita yang penuh iman, maka kuasa jahat itu dapat dikalahkan. Kedekatan kita dengan Allah, terlebih kehadiran Tubuh Kristus dalam tubuh kita, akan membentengi diri kita dari kuasa setan atau kejahatan. Apakah kita mengimani kuasa Allah dalam doa-doa kita dan dalam kehadiran Tubuh Kristus di tubuh kita? Yesus sendiri menegaskan hal itu dengan berkata: “Tidak ada yang mustahil bagi orang yang percaya” (Mrk 9:23). (fr. gunawan, cm) ^ Keatas


Kitab Suci On Line17 Mei 2008 - Bacaan Injil : Yakobus 3:1-10

Saudara-saudara, marilah kita melihat aneka peristiwa atau berita di sekitar kita. Betapa sering kita mendengar sebuah perkelahian, pertengkaran, bahkan pembunuhan dimulai dari adu mulut, salah informasi, berita yang sesat, salah menangkap maksud, dan sebagainya. Semuanya ini berawal dari mulut, persisnya lidah yang tak bertulang ini. Rasul Yakobus pun mengingatkan kita bahwa lidah itu pun adalah api; sekecil apapun api itu, ia mampu membakar habis seluruh hutan yang besar. Demikian pula dengan lidah manusia; omongan sekecil apapun bisa jadi menimbulkan perdebatan, permusuhan, bahkan pembunuhan. Lidah itu sesuatu yang buas, yang tak terkuasai, dan penuh racun mematikan, kata Rasul Yakobus.

Yang membuat lidah ini makin berbahaya adalah karena lidah itu bagaikan pedang bermata dua. Dari mulut yang sama bisa ke luar pujian maupun kutukan atau makian; dengan lidah orang memuji, tetapi sebenarnya menyindir atau menghina seseorang; Dengan lidah orang berdoa, dengan lidah pula orang menghina sesamanya. Betapa sering hal seperti ini terjadi dalam hidup kita.

Rasul Yakobus juga mengingatkan kita bahwa lidah itu bukan bagian yang besar dalam diri kita; hanya bagian kecil. Tetapi, justru apa yang kecil ini sangat menentukan dan juga bisa menjadi sangat berbahaya. Hal ini diibaratkan dengan kapal besar yang dikemudikan oleh sebuah kemudi yang kecil. Apa yang kecil ini ternyata bisa merusak, menghancurkan seluruh tubuh bila tidak digunakan dengan baik. Ibarat kuda yang mengenakan kekang pada mulutnya, demikian pula kita diminta untuk menjaga mulut, lidah kita. Demikianlah, Rasul Yakobus mengingatkan kita bahwa orang yang bijaksana adalah orang yang pandai menjaga lidahnya. Mari kita menjaga lidah kita, mulut kita agar hanya yang baik saja yang kita ucapkan, yang menyenangkan hati Allah dan mendatangkan sukacita, nasihat, dan penghiburan bagi setiap orang yang mendengarkannya. (fr. kurniawan, cm) ^ Keatas

“Perkataan yang diucapkan tepat pada waktunya adalah seperti buah apel emas di pinggan perak.”(Amsal 25:11)


Kitab Suci On Line16 Mei 2008 - Bacaan Injil : Yakobus 2:14-24.26

“Sebab seperti tubuh tanpa roh adalah mati, demikian jugalah iman tanpa perbuatan-perbuatan adalah mati” (Yak 2:26).

Saudara-saudari terkasih, “Apakah gunanya, saudara-saudaraku, jika seorang mengatakan, bahwa ia mempunyai iman, padahal ia tidak mempunyai perbuatan? Dapatkah iman itu menyelamatkan dia?”

Orang kerapkali berfikir bahwa iman itu hanya soal percaya pada Tuhan titik. Soal aku mempercayakan diri pada Tuhan dan segala rencanaNya titik. Padahal iman bukan hanya soal percaya pada Tuhan titik. Iman adalah soal mempercayakan diri pada Tuhan dan segala rencanaNya koma. Lanjutannya ialah iman itu harus dihayati dalam hidup, sehingga menjadi iman yang hidup bukan iman yang mati.

Tidaklah cukup kalau orang hanya berdoa terus menerus, devosi, ekaristi setiap hari, doa pribadi begitu panjang, dan segala kegiatan rohani lain. Iman yang hidup membawa pertobatan dan buah-buah yang dapat dirasakan oleh orang-orang yang ada di sekitarnya. Tanpa ada pertobatan pribadi dan buah-buah yang nyata maka iman itu adalah iman yang kosong dan mati.

Seperti Abraham dibenarkan karena perbuatan-perbuatannya, ketika ia mempersembahkan Ishak, anaknya, di atas mezbah, “… maukah engkau mengakui sekarang, bahwa iman tanpa perbuatan adalah iman yang kosong?” (Yak 2:20). Pertanyaan ini tentu tidak mudah untuk dijawab. Namun kita akan dapat merasakannya dan mengalaminya. Kapan? Saat kita berjumpa dengan orang yang memiliki iman yang hidup. Kita secara alami akan dapat merasakanya ketika kita ngomong-ngomong dengan mereka. Kata-kata yang keluar dari mulutnya itu memiliki kekuatan dan membuat kita tergerak untuk melakukan perbuatan yang baik dan sesuai dengan kehendak Tuhan sendiri. Jadi kata-kata yang keluar dari orang yang beriman membahwa pertobatan dan pembaharuan diri. (fr. gunawan, cm) ^ Keatas


Kitab Suci On Line15 Mei 2008 - Bacaan Injil : Markus, 8: 27 – 33

Pertanyaan Yesus kepada para muridNya “Siapakah Aku menurutmu?” sengaja dikatakan olehNya justru ketika mereka telah lama bersama-sama dengan Dia. Jawaban atas pertanyaan Yesus mengandaikan relasi yang sungguh dekat dan mendalam. Jawaban Petrus membuktikan sebuah pengenalan akan pribadi Yesus dalam hidupnya. Jawaban Petrus bukan hanya jawaban yang spekulatif supaya Yesus senang mendengarnya, melainkan sebuah jawaban yang didasarkan atas relasi personal, cinta, dan pengalaman hidup ketika mereka hidup bersama-sama dengan Sang Gurunya itu.

Saudaraku sekalian, implikasi iman para rasul juga harus menjadi semangat hidup kita setiap hari. Pertanyaan yang relevan bagi kita ialah sudahkah saya mengenal lebih dalam siapa Yesus dalam hidupku. Ataukah pengenalan kita akan Yesus hanya didasarkan pada nilai-nilai Kitab Suci, buku-buku bacaan, ajaran gereja? Ataukah sebaliknya pengenalan kita akan Yesus lebih didasarkan pada pengalaman hidup kita setiap hari yang konkrit?

Relasi dan pengenalan kita akan Yesus harus mendorong kita untuk juga mengenal sesama kita secara lebih dalam. Kita dituntut untuk menciptakan sebuah relasi dengan sesama, yakni suatu relasi cinta yang meneguhkan, memotivasi, memberikan sinergi, dan membuat orang lain itu berkembang dalam iman (fr. suyato, cm) ^ Keatas


Kitab Suci On Line14 Mei 2008 - Bacaan Injil : Yohanes 15:9-17

Yesus memberi perintah supaya kita saling mengasihi. Apakah kasih itu? Kata kasih seakan-akan sudah kehilangan maknanya karena banyak orang bicara soal kasih, soal cinta, tapi perbuatannya jauh dari kasih. Apakah kasih itu? Yohanes mengajak kita untuk belajar dari Yesus. Kasih itu tampak dalam kata-kata, “Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya (ay. 13).” Bagaimana mungkin Yesus sampai bisa berkata demikian? Karena Bapa mengasihi Dia, “Seperti Bapa telah mengasihi Aku, demikianlah juga Aku telah mengasihi kamu (ay. 9).” Hanya orang yang merasa dikasihi bisa mengasihi. Adakah kita merasa dikasihi? Sudahkan kita mengasihi? Mungkin kita sulit mengasihi karena belum merasa dikasihi?

Mari kita bertanya, siapakah sahabat-sahabat Yesus yang kepada mereka Ia sudi menyerahkan nyawanya? Ia berkata, “Kamu adalah sahabat-Ku, jikalau kamu berbuat apa yang Kuperintahkan kepadamu” (ay. 14). Itu berarti kita adalah sahabat Yesus dan untuk kitalah Ia telah menyerahkan nyawanya. Kita adalah sahabat Yesus. Mengapa? Apakah karena perbuatan baik yang kita lakukan? Tidak. “Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu” (ay. 16a). Yesus sendiri yang memilih kita. Dan Ia sendiri yang memilih kita dan “Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap.” Itu berarti kita dipanggil untuk diutus; diutus untuk menghasilkan buah yang berlimpah dalam hidup kita ini.

Demikianlah kasih itu pastilah menghasilkan buah yang berlimpah; bukan buah yang sesaat saja, melainkan buah yang tetap. Mari kita bertanya, adakah kasih kita telah menghasilkan buah? Apakah aku telah menghasilkan buah yang berguna bagi orang-orang yang ada di sekitarku? Apakah komunitas kita juga menghasilkan buah yang dirasakan manfaatnya bagi banyak orang? Setiap orang dipanggil dan diselamatkan bukan untuk dirinya sendiri, melainkan untuk keselamatan banyak orang.; untuk menjadi berkat bagi banyak orang. (fr. kurniawan,cm) ^ Keatas


Kitab Suci On Line13 Mei 2008 - Bacaan Injil : Yakobus 1:12-18

Ada seorang dokter, sebut saja namanya, dr. Shinta, bekerja di salah satu rumah sakit yang cukup terkenal. Sehari-hari dia bergumul dengan para penderita HIV-AIDS, yang sebagian besar berusia 24 – 30 tahun. Dari tahun ke tahun, jumlah penderita yang menimpa kaum muda semakin meningkat. Mengapa banyak kaum muda yang terkena penyakit itu? Menurut dokter itu, salah satu faktor mengapa kaum muda sangat gampang tertular penyakit itu adalah pergaulan bebas mereka yang tidak terkendalikan. Mereka ingin bebas dan mencoba segala hal yang baru agar diakui sebagai orang gaul. Betapa keinginan kita yang tidak dipikirkan dan hanya dilatarbelakangi oleh kepuasan sesaat membawa kita pada kehancuran. Pantaskah kita menyalahkan orang lain atau Tuhan?

Santo Yakobus mengajak umat untuk tidak menyalahkan Allah ketika mereka berhadapan dengan aneka cobaan. Ada bahaya orang akan menuduh Allah sebagai Pribadi yang bertanggung jawab atas segala derita dan kesulitan hidup sebagai akibat godaan tersebut. Tetapi, Yakobus dengan tegas mengatakan bahwa "*Allah sendiri tidak mencobai siapa pun. Tetapi tiap-tiap orang dicobai oleh keinginannya sendiri, karena ia diseret dan dipikat olehnya. Dan apabila keinginan itu telah dibuahi, ia melahirkan dosa; dan apabila dosa itu sudah matang, ia melahirkan maut"*  (1:13-15). Karena itu,  kita
yang bertanggung jawab atas apa yang kita alami. Kita tidak pantas menyalahkan orang lain dan apalagi Tuhan!

Ada aneka cobaan yang berada di hadapan kita setiap saat. Cobaan itu menampilkan dirinya dengan menarik dan memikat. Terkadang kita terbuai dengan bujukannya. Misalnya, tawaran untuk menjadi kaya dengan mendatangi dukun; diskon murah dan dapat hadiah jika membeli barang dalam jumlah besar sekalipun itu bukan kebutuhan mendasar; mendapatkan posisi baik dengan mengorbankan iman. Yakobus mengajak setiap orang Kristen agar tahan uji terhadap godaan dan tidak jatuh dalam kesesatan hingga menyalahkan Tuhan hanya karena kelalaiannya sendiri.

Apakah aku mampu mengendalikan keinginanku yang tidak teratur? Adakah aku lebih suka menyalahkan orang lain dan bahkan Tuhan sendiri, sementara derita yang aku alami saat ini sebagi buah dari kecerobohanku?
(fr. bastian-wawan, cm) ^ Keatas


Kitab Suci On Line12 Mei 2008 - Bacaan Injil : Yakobus 1:1-11

Dalam pengalaman sehari-hari, kita biasanya berharap untuk tidak mengalami aneka kesulitan. “Yah… semoga semuanya lancar…sukses…”, itulah harapan kita. Tidak mengherankan manakala kita mengalami kesulitan dan tantangan, kita kehilangan semangat, putus asa dan bahkan berusaha mencari jalan pintas. Misalnya, kita tidak ingin bekerjasama dengan orang tertentu karena faktor ketidakcocokan. Singkatnya, betapa kita sulit menghadapi dan menerima cobaan, tantangan, dan kegagalan dalam hidup kita!

Yakobus melihat akan adanya bahaya penyangkalan iman akan Yesus di antara umat Kristiani ketika mengalami pelbagai pencobaan. Karena itu Yakobus mengirimkan surat kepada mereka yang isi mengajak mereka untuk memiliki mata iman yang memampukan mereka untuk melihat dan memaknai aneka cobaan dan kesulitan itu sebagai suatu kebahagian. Mengapa? Karena dengan aneka cobaan dan kesulitan itu, mereka akan semakin bertekun mengejar kesempurnaan. Lebih dari itu, dengan ketekunan dalam beriman, orang kristen tidak akan mengalami kekurangan suatu apa pun karena Allah akan bermurah hati terhadap mereka jika mereka mengalami kekurangan hikmat. Itulah buah dari cara melihat dan memaknai aneka cobaan dan kesulitan sebagai kesempatan untuk belajar bertekun dalam beriman. Dengan kacamata iman, kita akan melihat segala peristiwa dalam hidup sebagai rahmat yang telah disediakan Allah kepada kita untuk bertumbuh dewasa secara rohani dan manusiawi.

Bagaimanakah aku melihat tantangan dan kesulitan dalam hidupku? Apakah itu sebagai rahmat atau sebagai hukuman? Adakah aku melihat makna di balik peristiwa-peristiwa di dalam hidupku sebagai kesempatan untuk bertumbuh di dalam iman, yakni semakin dekat dengan Tuhan? Mari kita memiliki mata iman sepert ini: “Anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan, sebab kamu tahu, bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan” (Yak 1:2-3). (fr. bastian-wawan, cm) ^ Keatas


Kitab Suci On Line10 Mei 2008 - Bacaan Injil : Roma 28:16-20.30-31

Hari ini adalah hari terakhir sebelum kita merayakan Hari Raya Pentakosta. Bacaan pertama dalam perayaan ekaristi mengajak kita untuk melihat bagian akhir dari Kisah Para Rasul, yaitu kisah Rasul Paulus yang ditangkap dan dibawa ke Roma. Mari kita melihat bacaan ini sebagai persiapan terakhir kita untuk merayakan Pentakosta.

Dalam Kisah ini kita dapat melihat bagaimana Paulus setia untuk mewartakan Injil, bahkan sampai akhir hidupnya. Situasi penjara, pengadilan di Roma, tidak membuat Paulus berhenti mewartakan Kerajaan Allah dan tentang Tuhan Yesus Kristus. Paulus tetap setia pada panggilan dan perutusannya sebagai seorang Rasul. Tindakan ini adalah bukti nyata kehadiran Roh Kudus dalam hidup Paulus. Tanpa dorongan dan bimbingan Roh, siapakah yang mampu menghadapi aneka tantangan dan hambatan seperti yang dialami oleh Paulus?

Roh itu juga senantiasa hidup, bergerak, dan bekerja dalam diri kita. Roh yang memanggil kita supaya ingat akan panggilan kita dan supaya setia dalam melaksanakan panggilan dan perutusan itu. Marilah kita lebih terbuka pada bimbingan Roh Kudus dan membiarkan diri kita digunakan menjadi alat-Nya. Rasul Paulus telah memberikan teladan yang sungguh indah bagi kita semua. Semoga semangat dan kesetiannya menjadi teladan bagi kita dalam merayakan Pentakosta. (fr. kurniawan, cm) ^ Keatas


Kitab Suci On Line9 Mei 2008 - Bacaan Injil : Yohanes 21:15-19

Saudara-saudari terkasih, peristiwa Yesus menemui Petrus dan para murid yang lain setelah kebangkitanNya, adalah wujud kasih setia dan penerimaan Tuhan Yesus terhadap para murid. Bagi Petrus, peristiwa itu adalah peristiwa personal yang sangat menyentuh hatinya karena ia telah beberapa kali menyangkal Yesus. Peritiwa inilah yang membuat Petrus berbalik total dari hidupnya. Petrus mengatakan "Tuhan aku mengasihi Engkau".

Proses pembaharuan diri Petrus dimulai dari penyesalannya akan kedosaannya, yakni menyangkal Yesus. Ia menyesali diri, dan kemudian memulai perubahan. Ia mengakui bahwa ia telah sombong, dan begitu percaya pada kekuatannya sendiri. Dari kesadaran akan kekeliruan dirinya itulah, ia memutuskan untuk kembali ke jalan Tuhan. "Tuhan aku mengasihi Engkau". Petrus berbalik dari penyangkal dan penolak Yesus ke pencinta Yesus.

Halangan kita mencintai Yesus adalah kecenderungan merasa mampu, merasa baik, merasa benar. Kita kurang rendah hati mengakui kesalahan dan dosa kita karena malu jika orang lain mengetahu kekurangan kita. Kita juga cenderung membela diri habis-habisan: saya sibuk, saya repot, saya ada urusan yang tidak bisa ditinggalkan, dan mengampuni diri kita sehingga kita sulit merasa bersalah dan berdosa. Kita juga cenderung menyalahkan orang lain. Inilah kecenderungan yang menghalangi pembaharuan diri kita. Membaharui diri berarti siap mengakui kelemahan manusiawi dan mau merubah arah dan tujuan hidup. Memilih jalan hidup yang diteladankan oleh Yesus sendiri. Pembaharuan diri kita, dapat kita wujudkan dengan membangun persekutuan yang baik (koinonia), pengembangan pelayanan (diakonia), pewartaan (kerygma), dan kesaksian (martiria).

Orang yang sudah dibaharui oleh Tuhan Yesus, kalau sedang makan enak, bukan hanya berkata "Wah makanannya enak sekali ya!" melainkan "Syukur Tuhan, Engkau telah memberikan rejeki kepadaku, masih banyak saudara-saudari korban bencana yang tidak bisa makan dengan nyaman seperti kami, kalau begitu Tuhan mulai hari ini, aku tidak akan membuang-buang makanan!", dst……..Orang yang dibaharui mengalami perubahan dari berpusat pada diri sendiri menjadi peduli dan melayani orang lain.Yesus juga bertanya kepada saudara hari ini: "Apakah engkau mengasihi Aku lebih dari pada mereka ini?" Apakah jawaban saudara? (fr. gunawan, cm) ^ Keatas


Kitab Suci On Line8 Mei 2008 - Bacaan Injil : Yohanes 17:20-26

Dalam hidup sehari-hari kita menjumpai: keretakan relasi persahabatan yang sudah lama terjalain, konflik anggota keluarga yang membuahkan kehancuran rumah tangga, budaya kawin-cerai di kalangan artis yang tidak mencerminkan nilai kesetiaan; perpecahan dalam partai politik di mana masing-masing pihak tidak tahan dengan perbedaan, dan masih banyak kenyataan lain yang kita saksikan. Kehancuran kesatuan seperti ini tetap membayangi hidup setiap orang, bahkan yang paling religius sekalipun! Tidak ada yang kebal dengan bahaya ini.

Yesus sungguh tahu bahwa akan ada bahaya kehancuran dan ketercerai-beraian di antara para muridnya. Penganiayaan dan aneka situasi sulit lainnya akan mengancam kesatuan para murid. Karena itu Yesus berdoa untuk para murid dan siapa saja yang menerima dan percaya kepada-Nya. Di dalam doa-Nya, Yesus memohon kepada Bapa-Nya agar para murid dan siapa saja yang percaya kepadaNya hidup dalam kesatuan sebagaimana Yesus bersatu dengan Bapa-Nya. Untuk tetap memelihara kesatuan itu, Yesus juga berkehendak untuk tetap bersatu dengan para murid dan orang yang percaya kepada-Nya. Doa Yesus ini  sungguh meminta setiap orang Kristiani untuk memelihara kesatuan di dalam nama-Nya. Misalanya memelihara kesatuan keluarga, lingkungan atau apa saja yang meminta komitmen untuk bersatu.

Kita pun perlu sadar bahwa kesatuan yang kita dambakan tidak bisa lahir dari usaha manusiawi kita semata. Sambil tetap berupaya membina kesatuan, kita pun perlu memohon rahmat Allah yang memampukan kita menghayati kesatuan di dalam nama-Nya. Mari kita menjadi tanda kasih Allah yang membawa kesatuan di tengah budaya merusak indahnya hidup bersama. (fr. bastian-wawan, cm) ^ Keatas


Kitab Suci On Line7 Mei 2008 - Bacaan Injil : Yohanes 17:11b-19

Saudara-saudara, bila kita berdoa kepada Tuhan itu sudah biasa. Hari ini kita mendengar sesuatu yang luar biasa, yaitu Tuhan berdoa untuk para murid. Mengapa Tuhan berdoa untuk para murid? Karena Tuhan Yesus tahu bahwa saatnya akan tiba Ia harus meninggalkan para murid. Kesedihan Yesus bertambah karena Ia juga tahu bahaya yang akan dihadapi oleh para murid. Yesus melihat betapa dunia membenci mereka sama seperti dunia membenci Yesus sendiri. Lalu, apakah yang didoakan oleh Yesus?

Ada tiga permohonan yang dikatakan oleh Yesus. Pertama, Yesus sangat mencintai para murid-Nya, tetapi Ia tidak meminta supaya para murid dilepaskan dari bahaya itu. Yesus meminta supaya Bapa melindungi para murid dari yang jahat. Aneka bahaya ini tampaknya dipandang Yesus memang perlu untuk mendidik manusia agar memiliki iman yang teguh dan kuat. Kedua, Yesus meminta agar para murid dipelihara dalam nama Bapa. Sebagaimana Yesus bersatu erat dengan Bapa, demikianlah Yesus mendoakan para murid-Nya agar bersatu erat pula dengan Bapa karena persatuan inilah yang akan memelihara dan menjaga mereka. Ketiga, Yesus meminta agar para murid dikuduskan dalam Firman Tuhan. Artinya, Yesus sungguh berharap para murid-Nya dengan tekun dan setia mendengarkan dan merenungkan Sabda Tuhan karena Sabda inilah yang akan menguduskan hidup mereka.

Dari ketiga doa permohonan Yesus tersebut kita dapat mengatakan bahwa Yesus tahu bahwa para murid akan menghadapi bahaya besar saat hendak Ia tinggalkan. Maka, dengan berdoa kepada Bapa, Yesus sebenarnya juga berharap agar para murid itu tetap memelihara kesatuan dengan Bapa serta dengan tekun dan setia mendengarkan dan merenungkan Sabda Tuhan. Dua hal inilah yang dipandang sangat penting oleh Yesus untuk menghadapi dunia yang penuh bahaya, dunia yang membenci para murid. Hal ini kiranya tidak jauh dari hidup Yesus karena memang sepanjang hidup-Nya Yesus senantiasa berusaha memelihara kesatuan-Nya dengan Bapa dan senantiasa berusaha mendengarkan
suara Bapa sendiri. Sebagaimana Yesus, demikianlah para murid diharapkan memiliki semangat dan sikap yang sama. Hanya dengan jalan inilah kita akan selamat dari dunia yang penuh bahaya. (*fr. kurniawan,cm*) ^ Keatas


Kitab Suci On Line 6 Mei 2008 - Bacaan Injil : Kisah Para Rasul 20:17-27

Dua hari yang lalu, ada seorang Romo yang sedang cuti. Dia bertugas di pedalaman Kalimantan. Dia bercerita bahwa banyak guru, khususnya, pegawai negeri, di pedalaman kalimantan, lebih suka menerima gaji daripada melaksanakan tugas pengajarannya. Banyak murid yang sudah kembali ke rumah sekitar Pkl. 09.30 WIB karena tidak ada guru yang memberi pengajaran. Lantas, dalam persiapan UNAS (Ujian Nasional), Romo itu sendiri yang membantu anak-anak itu dalam persiapan menghadapi UNAS.

Berbeda dengan kebanyakan guru pegawai negeri di kalimantan pedalam kalimantan, Paulus sungguh seorang yang bertanggung jawab. Ini dapat kita simak dalam ungkapan isi hatinya dalam acara perpisahan dengan jemaat yang telah dia dampingi. Dalam kesempatan itu, dia mengajak umat mengenang kembali bagaimana dia melaksanakan tugas perutusannya sebagai rasul dengan penuh tanggung jawab, yakni tanggung jawab mewartakan kesalamatan dalam nama Kristus agar orang lain memperoleh keselamatan. Tanggung jawab itu dilakukan dengan banyak mencucurkan air mata dan mengalami banyak pencobaan dan bahkan ancaman untuk dibunuh. Semangat yang sama masih menggema dalam hati Paulus dalam menyongsong tugas barunya di Yerusalem yang akan penuh dengan penderitaan. Apa yang menarik dalam pengalaman Paulus ketika melaksanakan tanggung jawabnya?

Paulus melaksanakan tanggung jawabnya tanpa pamrih dan tanpa menghiraukan nyawanya. Dia tidak melakukan tugasnya sesuka hatinya dan sekenanya saja. Dia selalu melaksanakan tugasnya dalam bimbingan dan ketaatan kepada Roh Kudus. Lebih dari itu, dia tidak meminta orang yang telah dilayaninya untuk mengenangnya. Satu-satunya harapanya adalah mengakhiri tugas perutsannya secara tuntas agar orang lain yang dia layani memperoleh keselamatan dalam nama Yesus Kristus yang telah mengutusnya sekalipun dia harus mengalami banyak penderitaan.

Kita pun memiliki tanggung jawab dalam hidup keseharian kita, baik sebagai karyawan, orang tua atau apa saja profesi hidup kita. Apakah kita melaksanakan tanggung jawab itu dengan sepenuh hati atau hanya asal-asalan? Adakah kita memperhatikan keselamatan dan kebaikan banyak orang ataukah hanya memperhatikan diri kita sendiri manakala melaksanakan tanggung jawab keseharian kita? Adakah kita menuntut pamrih dalam tugas pelayanan kita?
(fr. bastian-wawan, cm) ^ Keatas


Kitab Suci On Line 5 Mei 2008 - Bacaan Injil : Yohanes 16:29-33

BERPROSES
Tidak ada sesuatu yang sekali jadi, semuanya memerlukan proses. Kalau mau menjadi guru, maka orang perlu mencintai pekerjaan guru dan mengembangkan ketrampilan untuk menjadi guru. Kalau mau menjadi pedagang sukses, maka orang perlu membuka jaringan dengan para produsen dan berusaha melayani para konsumen sebaik mungkin. Kalau kita mau menjadi mahasiswa-mahasiswi yang baik, maka kita harus bertekun melakukan studi pustaka dan penelitian serta rajin mengikuti perkembangan situasi masyarakat, ilmu dan teknologi yang sedang berkembang. Ya, semuanya membutuhkan proses.

Pemahaman para murid akan Yesus juga tidak terjadi serta merta. Pengenalan para murid akan Yesus adalah suatu proses panjang dan terus menerus sejak mereka dipanggil dan tinggal bersama Yesus sampai wafat dan kebangkitan Kristus. Dalam bacaan Injil hari ini, para murid mulai memahami dan percaya bahwa Yesus yang mengetahui segala sesuatu itu, datang dari Allah. Sebelumnya mereka tidak memahami hal itu. Bagaimanakah para murid dapat mengenali Yesus itu? Para murid mengenali Yesus karena Yesus berterus terang kepada mereka. Yesus membuka hati para murid dan memperkenalkan diriNya maka mereka percaya bahwa Yesus itu Tuhan.

Kadang kita kurang sabar dalam berproses. Kita ingin semuanya berlangsung cepat (instant) terlebih hal-hal yang menyenangkan dan menguntungkan kita. Saat harus menghadapi penganiayaan / berbagai macam kesulitan, kita lalu mudah berputus asa dan bahkan meninggalkan Tuhan. Kita kurang mampu melihat bahwa kesulitan yang kita hadapI itu adalah bagian dari proses. Terlebih lagi lalu kita lupa akan kehadiran Allah dalam hidup kita. Kita lupa bahwa Dia selalu siap sedia membantu kita. "Dalam dunia kamu menderita penganiayaan, tetapi kuatkanlah hatimu. Aku telah mengalahkan dunia" (Yoh 16:33). Mari kita berproses bersama Allah dalam setiap langkah hidup kita.
(fr. gunawan, cm) ^ Keatas


Kitab Suci On Line 3 Mei 2008 - Bacaan Injil : Yoh 14:6-14

Filipus berkata pada Yesus. “Tuhan tunjukkanlah Bapa kepada kami, dan itu sudah cukup bagi kami.” Kata Yesus kepadanya: “Telah sekian lama Aku bersama-sama kamu Filipus, namun engkau tidak mengenal Aku? Barangsiapa telah melihat Aku, Ia telah melihat Bapa…”

Saya mengenal seorang muda di daerah Blitar selatan yang sejak kecil sudah dibaptis di Gereja Katolik, saat SD ia cukup aktif di Minggu Gembira stasi, saat remaja ia juga cukup aktif di misdinar walaupun saat sudah mudika ia kurang aktif di mudika stasi. Setelah lulus SLTA, ia bekerja di Surabaya. Di sana ia berkenalan dengan seorang gadis non Kristen. Pekenalan itu akhirnya berlanjut ke jenjang pernikahan. Namun yang menarik adalah orang muda katolik ini berteguh hati bahwa ia tidak akan meninggalkan iman Katolik karena gadis itu. Maka ia mengungkapkan kepada gadis itu bahwa dia mau menikah dengannya asalkan nikah di Gereja Katolik. Akhirnya gadis itu mau menikah dengan orang muda katolik itu di Gereja Katolik, walaupun ia masih tetap memeluk agamanya. Namun orang muda itu tetap memiliki pengharapan bahwa suatu hari nanti isterinya akan mengimani Kristus. Keaktifannya dalam hidup menggereja dan juga hidup iman membuat orang muda itu setia pada imannya.

Dalam Injil hari ini Yesus bertanya kepada Filipus: “Telah sekian lama Aku bersama-sama kamu Filipus, namun engkau tidak mengenal Aku? Barangsiapa telah melihat Aku, Ia telah melihat Bapa…” Pertanyaan Yesus itu juga merupakan pertanyaan bagi kita saat ini. Mungkin kita sudah di baptis sejak bayi, sudah ikut pelajaran komuni pertama, sudah komuni, sudah krisma dan aktif di mudika, dan lain-lain. Namun apakah kita sudah mengenal Yesus? Bagaimanakah pengaruh aktifitas sejak kecil hingga mudika itu bagi kualitas iman kita?

Kuantitas keaktifan kita dalam kegiatan liturgi dan kegiatan menggereja lainnya, bukanlah jaminan mutu atas iman kita, bukanlah ungkapan kualitas iman kita. Kualitas iman kita teruji manakala kita dapat melaksanakan pekerjaan-pekerjaan Tuhan. “Sesungguhnya barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan melakukan juga pekerjaan-pekerjaan yang Aku lakukan, bahkan pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar dari pada itu” (Yoh 14:12). Maka tidak cukup kita hanya menjadi pendengar firman. “Hendaklah kamu menjadi pelaku firman dan bukan hanya pendengar saja; sebab jika tidak demikian kamu menipu diri sendiri” (Yakobus 1:22). Mengapa? Karena “Apakah gunanya, saudara-saudaraku, jika seorang mengatakan, bahwa ia mempunyai iman, padahal ia tidak mempunyai perbuatan? Dapatkah iman itu menyelamatkan dia?” (Yakobus 2:14). (fr. gunawan, cm). ^ Keatas


Kitab Suci On Line 2 Mei 2008 - Bacaan Injil : Kis 18:9-18

"Jangan takut! Teruslah memberitakan firman dan jangan diam! Sebab Aku menyertai engkau dan tidak ada seorang pun yang akan menjamah dan menganiaya engkau, sebab banyak umat-Ku di kota ini."

"Takut dan Ngeri!" Mungkin kata itulah yang bisa kita ucapkan saat mau mengatakan kebenaran pada zaman ini. Mengapa? Karena hukum tidak jelas dan mudah untuk dibolak-balik, yang salah bisa dibenarkan, yang benar disalahkan, hukum mudah dibeli. Selain itu, dari berbagai pengalaman, orang-orang yang memperjuangkan keadilan dan kebenaran terus menerus diintimidasi dan bahkan dianiaya. Salah satu contohnya adalah masyarakat Porong - Sidoarjo yang kehilangan hak milik yang merupakan tumpuan hidupnya, justru menjadi bulan-bulanan aparat dan hingga kini banyak yang tidak mendapatkan ganti rugi yang layak dan terkatung-katung di pasar Porong. Namun syukurlah masih ada orang yang berhati nurani jernih sehingga rela membantu mereka.

Ketakutan dan kengerian demikian itu, juga dialami olah Paulus saat mewartakan Kristus di kota Korintus. Orang-orang Yahudi melawan Paulus dan mereka menyeret Paulus ke depan pengadilan. Namun dalam suatu penglihatan, Tuhan memberikan peneguhan kepadanya. Ia berkat kepada Paulus: "Jangan takut! Teruslah memberitakan firman dan jangan diam! Sebab Aku menyertai engkau dan tidak ada seorang pun yang akan menjamah dan menganiaya engkau." Tuhan menyertai Paulus dan tidak membiarkan Paulus berada dalam ketakutan dan kengerian oleh intimidasi dan ancaman dari orang-orang Yahudi. Penyertaan Tuhan itulah yang membuat Paulus tidak gentar terhadap segala ancaman dan aniaya.

Sebagai orang muda, kita juga pernah atau bahkan sedang mengalami ketakutan dan kengerian. Saat kita mau menolak ajakan untuk mengkonsumsi narkoba, atau seks bebas, stress, dan lain-lain, kita takut, takut dikatakan sok suci atau sok baik. Saat mau membantu teman yang sedang sakit kita tidak boleh takut mengatakan yang benar, kita tidak boleh mundur dari perjuangan membangun Kerajaan Allah di dunia ini, kerajaan yang damai, adil dan benar. Mengapa? Karena Tuhan selalu menyertai kita dan membiarkan kita terus dalam penganiayaan. (fr. gunawan, cm). ^ Keatas


HARI KENAIKAN YESUS
Kitab Suci On Line 1 Mei 2008 - Bacaan Injil : Kis 3:1-11; Ef 1:17-23; Mat 28:16-20

“Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.”

“Uang simpanan saya di Bank silahkan dibagi 80% untuk keluarga: adik- adik dan keponakan saya dan 20% diserahkan kepada Keuskupan”, demikian salah satu isi surat wasiat terakhir dari Bapak Kardinal Justinus Darmojuwono Pr, yang beliau katakana secara lisan dan ditulis oleh keponakannya dan disaksikan oleh saudara-saudarinya maupun pejabat Keuskupan sementara beliau berbaring di rumah sakit, satu hari sebelum dipanggil Tuhan. Beliau sendiri telah menyerahkan `surat wasiat resmi’ yang dibuat dengan tanda tangan di atas meterai, yang isinya sangat berbeda dengan yang beliau katakan sehari sebelum dipanggil Tuhan, meninggalkan kita semua untuk menghadap Bapa di sorga. Apa yang beliau katakan pada hari/jam- jam terakhir menjelang dipanggil Tuhan atau menghadap Bapa di sorga lebih kuat dan kuasa daripada apa yang ditulis secara resmi/formal, itulah yang akhirnya kita laksanakan. Memang pada umum kata-kata terakhir dari orangtua, saudara-saudari kita menjelang dipanggil Tuhan, menghadap Bapa di sorga sungguh bermakna dan menjiwai yang ditinggalkan. Pada hari Raya Kenaikan Tuhan hari ini, sebelum naik ke sorga, Ia berpesan kepada para murid: “Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi. Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.” (Mat 28:18-20). Semoga pesan ini menjiwai kita semua dan hidup dan bekerja, maka marilah kita renungkan dan hayati pesan tersebut. Ada 3(tiga) pesan: (1) jadikanlah semua bangsa muridKu, (2) baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus dan (3) ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu, dan selama kita melaksanakan pesan tersebut “Aku menyertai kamu senantiasa sampai akhir zaman”.

“Jadikanlah semua bangsa muridKu”

Yesus adalah Penyelamat Dunia, Ia datang ke dunia untuk menyelamatkan seluruh bangsa di dunia serta seluruh isi dunia. Kita semua yang menjadi murid atau pengikutNya atau percaya kepadaNya dipanggil untuk meneruskan tugas perutusanNya: menyelamatkan seluruh bangsa dan dunia, “Jadikanlah semua bangsa muridKu”, demikian pesanNya kepada kita semua.

Seseorang disebut `murid baik’ pada umumnya memiliki ciri-ciri sebagai berikut: gembira, bergairah, siap sedia menerima segala sesuatu yang baru, terbuka, penuh harapan masa depan, mudah dibina dan dibentuk menuju ke pribadi yang cerdas beriman , terbuka pada Penyelenggaraan Ilahi, dst.. Kita dipanggil untuk mendampingi atau menemani sesama kita memiliki sikap-sikap macam itu, tentu saja diri kita sendiri memiliki ciri-ciri atau sikap-sikap tersebut di atas, sehingga kita layak dan mampu mendampingi dan menemani saudara- saudari kita. Menjadi murid Yesus berarti menjadi “Umat Allah yang baru, suatu umat manusia berasal dari Yesus. Kepada `Umat Baru’ ini seluruh umat manusia dipanggil. Ras, bangsa, dan keturunan tidak memainkan peranan. Yang penting ialah keinsafan akan ketidakmampuan sendiri, serta kesediaan menerima Kerajaan Allah” (KWI: Iman Katolik, buku Informasi dan Referensi, Jakarta 1996, hal 271)

“Keinsafan akan ketidakmampuan sendiri, serta kesediaan menerima Kerajaan Allah”, inilah yang harus menjadi milik kita, kita hayati serta sebarluaskan kepada sesama dan saudara-saudari kita, tanpa pandang suku, ras, agama, bangsa dan keturunan. Hidup serta segala sesuatu yang menyertai hidup kita adalah anugerah Allah, berasal dari Allah dan kita terima melalui sesama dan saudara-saudari kita yang baik dan murah hati, orang-orang yang `dirajai/dikuasai oleh Allah’. Maka sikap hidup yang baik adalah senantiasa bersyukur dan berterima kasih sebagai bentuk aktif dari `keinsafan akan ketidakmampuan sendiri, serta kesediaan menerima Kerajaan Allah’. Syukur dan terima kasih menjadi cirikhas hidup seorang `murid yang baik, sejati’.

“Baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus”

“Melalui pembaptisan orang dimasukkan ke dalam misteri Kristus. Mereka mati, dikuburkan dan dibangkitkan bersama Dia; mereka menerima Roh pengangkatan menjadi anak, dan dalam Roh itu berseru: Abba, Bapa; demikianlah mereka menjadi penyembah sejati, yang dicari oleh Bapa” (Vatikan II: SC no 6). Menjadi `penyembah sejati’ serta membantu sesama menjadi `penyembah sejati’ itulah panggilan kita semua“Menyembah” yang dalam atau berasal dari bahasa Latin `adoro/adorare’ , yang memiliki berbagai arti antara lain: berbicara kepada, menyeru memohon-mohon, berbakti dan memberi hormat. Maka menjadi `penyembah sejati’ berarti memiliki ciri-ciri tersebut.:
• Berbicara kepada Tuhan maupun sesama manusia. Berbicara kepada Tuhan berarti berdoa, maka doa merupakan cirikhas orang beriman yang percaya kepada Tuhan atau telah dibaptis.Berbicara kepada sesama manusia berarti bercakap-cakap, lebih-lebih bertukar pengalaman perihal hidup beriman melalui dialog hidup, dialog kerja/karya, dialog iman, dst..
• Didalam berdoa kepada Tuhan kiranya kita senantiasa menyeru memohon-mohon, yaitu “meminta kepada Allah Tuhan kita Yesus Kristus, yaitu Bapa yang mulia itu, supaya Ia memberikan kepadamu Roh hikmat dan wahyu untuk mengenal Dia dengan benar.Dan supaya Ia menjadikan mata hatimu terang, agar kamu mengerti pengharapan apakah yang terkandung dalam panggilan-Nya: betapa kayanya kemuliaan bagian yang ditentukan-Nya bagi orang-orang kudus, dan betapa hebat kuasa-Nya bagi kita yang percaya, sesuai dengan kekuatan kuasa-Nya” (Ef 1:17- 19)
• “Dibaptis” berarti juga dipanggil untuk berbakti dan memberi hormat kepada Tuhan, senantiasa melaksanakan kehendak atau perintah Tuhan di dalam hidup sehari-hari.

“Ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu”

Segala sesuatu yang telah dipertintahkan oleh Yesus kiranya dapat diringkas atau dipadatkan dalam perintahNya untuk saling mengasihi dengan segenap hati, jiwa, akal budi dan tenaga/tubuh serta “Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu” (Mat 5:44). Sikap terhadap sesama kiranya dapat meneladan atau menghayati kata Petrus ini: “Emas dan perak tidak ada padaku, tetapi apa yang kupunyai, kuberikan kepadamu: Demi nama Yesus Kristus,
orang Nazaret itu, berjalanlah!”(Kis 3:6).

Melakukan segala sesuatu yang diperintahkan Tuhan berarti mengasihi sesama atau memberi kasih kepada sesama, bukan memberi emas atau perak, harta benda/uang, kedudukan, pangkat atau hormat manusiawi. Harta benda/uang, kedudukan, pangkat atau hormat manusiawi hanyalah sarana atau perwujudan kasih, sedangkan yang utama atau pokok adalah kasih. Maka sekiranya kita memiliki harta benda/uang, kedudukan, pangkat, jabatan dan hormat manusiawi hendaknya difungsikan atau dihayati dalam dan oleh kasih. “Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran.Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu” (1Kor 13:4-7) “Allah telah naik dengan diiringi sorak-sorai, ya TUHAN itu, dengan diiringi bunyi sangkakala. Bermazmurlah bagi Allah, bermazmurlah, bermazmurlah bagi Raja kita, bermazmurlah! Sebab Allah adalah Raja seluruh bumi, bermazmurlah dengan nyanyian pengajaran! Allah memerintah sebagai raja atas bangsa-bangsa, Allah bersemayam di atas takhta-Nya yang kudus” (Mzm 47:6-9) ^ Keatas

Rm. Maryo
dari milis Api Katolik


HOME | EVENTS | FAITH | PRAYERS | CONTACT | LINKS